yang penting adalah, kamu harus percaya bahwa HIDUP merupakan HAL BESAR yang DIANUGERAHKAN TUHAN buat kamu. maka jadilah PRIBADI BESAR dan BERMANFAAT bagi dunia. As You THINK, So You BECOME.
Halaman
(Donny Dhirgantoro - 5 cm)
mar gheall orm
- @putriroady
- Bandar Lampung, Lampung, Indonesia
- kalo lo bilang gue bisa terbang, gue yakin lo bisa menghilang!
Rabu, 25 April 2012
Serenade Tanda Tanya
Jumat, 06 April 2012
Matahari dan Bulan Merah Jambu
Redup sinar merah jambu menelusup dari celah-celah atap jeramiku, dari balik sayap kunang-kunang yang menyambut subuh dan terbitnya matahari.
Dan disinilah pundi – pundi asaku mulai diikatkan, sebelum bulan merah jambu pulang dan ufuk timur benderang.
Seumpama matahari subuh yang masih terpaut pada lembut sinar bulan semalaman..
“Kau lelah?” tanyaku. “Tidak juga” jawabmu masih dari balik selimut.
“Tidurlah lagi, masih terlalu gelap. Matahari belum datang..” rajukmu, menggeliat pada tangan tuaku.
“Aku butuh udara subuh. Biar aku keluar sejenak”. Aku memaksa, udara di ruangan ini membuatku jengah. Kau mempersilahkan namun berpesan agar aku tak membuka jendela. Kau benci sinar matahari subuh.
Di tembok beranda lantai empat, kusandarkan alam bawah sadarku, membawanya hanyut dalam tiap hisapan rokok yang beruap putih dan bau. Bulan Merah Jambuku di dalam sana, dibalik selimut lusuhnya. Masih tertidur dengan manis dan.... gila.
***
“Aku tidak mengunyah telingamu kok, santai saja..” bujukku.
Dia berbalik memandangku, meletakkan kuas lukisnya di meja kecil berbentuk oval. “bukankah kau telah menjanjikan kejutan untukku di kamis pagi?”, aku penasaran setengah mati. Bulan Merah Jambu ini selalu bisa membuatku jatuh cinta sampai ingin mati.
Dia meletakkan jari tengahnya di bibirku, perintah agar aku mengatupkannya sejenak untukmu. “sst, tunggu sebentar ya..”, katanya.
Dia beranjak dari kursi kayunya, merogoh ke dalam kotak kecil di bawah meja oval itu, mengambil kamera.
“Aku sudah menunggunya berminggu-minggu, agar saat aku memotretnya, dia berada di sudut yang tepat.” Dia tersenyum, menunjukkan gigi-gigi putihnya yang rata selepas di kikir. Aku berdiri dibelakangnya, melingkarkan lengan di pundak bidangnya. Aku suka begini, bisa leluasa aku menciumi wangi rambutnya.
Dari kamera itu kulihat dia memotret matahari subuh. Pertama kalinya aku melihat matahari bulat oranye seindah itu. “Kapan kau mengambilnya, sayang?”, tanyaku. “Pagi ini. Dari balik rumpun bambu di timur pagar rumah kita.” Dia sumringah. “Bagus kan? Kau suka?” lanjutnya.
aku mengangguk. “tentu..”
“Nah, sekarang Bulan Merah Jambu punya pasangan, Sang Matahari Subuh.”
***
Itu kamis ke-743 yang kulalui bersamamu. Kuhitung sejak orangtuamu menginjak dadaku dan mengusirku di hadapan tetangga-tetanggamu. Dia berharap aku adalah perempuan yang bisa mendampingi puteranya sehidup semati, tapi nyatanya aku adalah laki – laki. Kau dan aku adalah laki – laki. Kau adalah putera lelaki satu-satunya di keluargamu. Tak mungkin mereka akan mengusirmu.
Tapi tak kusangka, cintamu padaku lebih besar dari sikap hormat pada ayahmu yang keturunan Hitler itu. Kau tinju ulu hatinya, lalu kau berlari mengejarku –dan memelukku di bawah lampu kuning perempatan.
Itu masa lalu, yang bagiku tetap jadi lukisan nyata diantara tumpukan cat, kuas dan kanvasmu.
Kamis demi kamis di minggu ketujuhratus berjalan seperti biasa, diantar dingin matahari subuh dan hangat bulan merah jambu. Hingga di kamis ke-802, kau temukan pil-pil setan di saku mantel hujanku, beserta surat seorang wanita yang belakangan kau tahu adalah kakak tirimu.
Aku tak tahu apa yang kau pikirkan saat itu, aku tak ingin tahu. Kubiarkan kau liar menyiram wajahku dengan air panas, kau tampar aku dengan gesper kulit ularmu.
Kulihat semua lukisanmu kau bakar satu-satu dengan zippoku. Dini harinya tak kutemukan kau tidur di bahuku, ternyata kau sedang melukis. Satu kanvas tergores penuh dengan cat hitam, kanvas berikutnya dengan cat merah marun, lalu biru gelap, begitu seterusnya.
Tak pernah lagi kau bertanya tentang kabarku dan kakak tirimu, pun dia sudah kucampakkan di gang sempit pinggiran kota. Aku benci dia, dia membuatmu membenciku.
Ini dosa, aku dihukum oleh cat dan kanvasmu. Dan kutebus hukuman ini dengan bersamamu sampai kita mati nanti. Tak peduli kau waras atau gila. Karena mungkin, akulah yang gila. Lebih gila daripada kamu.
Kumatikan api diujung rokokku yang semakin lama kuhisap semakin membakarku habis. Aku tak ingin mati konyol di depan hidungmu.
Aku kembali ke kamar.
“sudah.. matahari sudah naik”, ujarku. Kau melenguh panjang.
Kuusap kepala dan pipimu. Sepertinya kau baru saja menangis, entah karena apa. Aku tak ingin bertanya. Kau rebahkan dirimu di pundakku, kusambut dengan pelukan erat. Biar saja kita sama-sama gila. Kamu tetap Bulan Merah Jambuku, tak akan berubah.
Kamis, 01 Maret 2012
photosrandom
Yang ini waktu liburan di Kemang, itu nemu topeng Ultramen, dan itu gue yang make. wahahaha


kalo ini di rumah Mbah di Cililitan, itu mau naik mobil, sempet - sempetnya nyengir *trollface*

tiga foto dibawah ini waktu jalan - jalan ke Pantai Klara sama Mama Papa, nemu ayunan nganggur :D



Ini waktu nginep di Gisting, Vila Voda!! moment liburan, abis bagi raport.
semua foto yang diambil bermuka bantal karena gue emang baru bangun tidur





nah.. yang ini waktu Liburan ke Jakarta. di mobil sama Febri, sempet - sempetnya Webcam-an :D



Welcome to Youth and Sport Festival, Kemenporaaaa !! :D
ini foto aku sama Nida (keyboardist Zerosix Park, dari Kalimantan Timur), Band nya Nida ini juara 1 nasional, sumpaaaaah, Nida dewa banget main keyboardnya. waktu malem - malem di Wisma Fatmawati, dia mainin lagu -lagunya Mozart, Choppin, sama Maxim doooong !! bayangpun!!

ini lagi di kapal :D

ini diajarin sama Mas - mas dari Jogja bikin kerajinan tangan dari kertas koran yang di gulung - gulung :D

yang ini lagi nge-gembel di Parkir Timur Senayan, nunggu sarapan :D

ini lagi liburan sama Mama Papa ke Botanical Garden, Bogor. di depan Orchidarium, mau siap - siap lompat. haha. itu sama Wibi, adek gue..

ini... pelampiasan hasrat, soalnya hutan udah pada digundulin, jadi begitu ketemu pohon gede, insting mengatakan : "AYO GELANTUNGAAAAN!!"

Nah.. ini snapshoot buku Tahunan :D
lagi sesi foto buat biodata :D
(serasa model --")
ini udah pake kostum :D
ini yang tujuan nya ke Eropa. dari kiri ke kanan : Gue, Nuke, Mirna, Tati.
dan.. sisanya Random!
yang ini lagi ngeskrim di deket KOPI ITEM.

ini lagi di Bandung, rumah makan :D
ini di Kampoeng Legok, Villa di bawah Tangkuban Perahu. dingin banget disanaaaa. lagi sarapan, siap siap ke Museum KAA.
ini alien yang gue buat dari lilin mainan. hahaha :D

dan yang terakhir ...
this is my 17th birthday.
itu big Tiramissu Cake loooh! :D

sankyuuu~ :)
Senin, 31 Oktober 2011
sketsa rindu
Tumpukan buku, novel, prosa, dan carik bait puisi bertebaran, menyatu membentuk kesatuan dengan sketsa kerinduan itu. Menjadi padu bercerita, lagi, tentang kerinduan.
Syair - syair beriring petikan dawai gitar, gesekan biola, dan denting piano. Mengisahkan tentang cinta. Tentang cinta.
Saya termangu di depannya, menikmati suara, menelusuri sketsa hitam putih.
Lalu terbukalah lembar berisi guratan kisah, kisah yang lagi, mengingatkan saya padanya. Padanya.
Kisah yang menumpahkan kerinduan. Padanya.
Lagi.
21 Juni 2011 #2
Rasanya inginku berlari kembali ke pusaramu, merapatkan dingin membias peluhku. Hanya untuk sejenak bersamamu: di peristirahatan terakhirmu.
Baru siang tadi, makam masih basah. Mungkin juga masih sanggup menampung satu raga lagi. Ragaku.
Maaf. Maafkan atas raut sedih yang terguris pias di wajahku. Maaf, maaf aku tak disana saat ini..
Andai saja dingin yang merengkuhku pagi ini dapat berbuah kehangatan, itu karena adamu. Sayangnya hanya ada rindu yang beku dalam ruang tak berpenghuni.
Entah sampai kapan aku menghantui tidurku dengan keheningan rindu ini.
Temani aku, sejenak saja. Dengan percakapan sederhana, seperti hari yg tlah lalu. Kuatkan aku, karena aku tak mampu lagi mencetak senyummu, bidadari.
Jangan biarkan aku mendekap diammu.. Hanya itu.
21 Juni 2011 #1
Hatiku merapal harapan yang kutujukan pada satu, hatimu. Rasanya ingin kurengkuh engkau pada syahdunya rindu jiwaku.
Sayangnya yg kutemui hanya bayangmu.
Kucari lagi jejakmu yang meninggalkan cercap hangat di batinku malam kemarin. Dalam keakuanku aku masih mengejar jejakmu yang kini berubah semu.
Aku masih ingin melanjutkan obrolan - obrolan kecil kita. Aku masih rindu senyummu, tawa riangmu. Aku masih ingin mengulang perjumpaan kita, di tepi danau, di kolong langit bertahta kerlip bintang, di bawah terik matahari, dalam lembut belaian angin.
Sayangnya, selalu bayangmu saja yang hadir.
Percakapan kita belum usai, bidadariku. Kau terlanjur berlalu.
48 jam lalu tawamu masih membahana di relungku. 48 jam setelahnya, tubuh kakumu membunuhku, meluluh lantakkan dambaku.
Keegoisan waktu mencekikku. Kau tak mungkin menyeka airmataku lagi.
Yang dapat kulakukan detik ini hanya rebah lemah di pusaramu. Mengeja namamu yang terpatri di nisan batu.
Lukiskan lagi kasihmu di sini, bidadariku. Kumohon..
Dongeng Malaikat
dan kita beruntung memiliki kehidupan.
dulu sebelum diturunkan ke bumi, para ruh calon bayi tinggal di satu tempat yang sama.
tempatnya indaaaah banget. kita disana bareng - bareng sama malaikat.
tiap ada pengumumam akan ada calon bayi di bumi, para ruh ini berebutan, mereka ingin terpilih menjadi yang beruntung bisa hidup sebagai manusia di bumi.
dulu, sebelum waktunya tidur, para malaikat selalu meninabobokkan kami dengan dongeng - dongeng indah. pernah dengar dongeng malaikat gak? itu beneran ada lho.
pernah suatu ketika, malaikat yang sayapnya paliiiing indah dibanding malaikat - malaikat lainnya bercerita tentang kehidupan di bumi..
katanya, bumi itu indaaaah banget!...
Dan katanya lagi, kalau kami turun ke bumi nanti, kami bakal ketemu sama sesosok bidadari paling anggun sejagad! Dia lebih lembut dari malaikat dan kasih sayangnya lebih luas dari semesta.
***
kata mama tempat ini namanya pengungsian. Disini ramai, tapi gak ada senyum yang cerah.
Disini semuanya bikin sedih.
Minggu lalu tanah longsor, rumah kami rusak. Kami pun tinggal disini.
Sorot mata semua orang gelap, kosong. Aku pengen bilang ke mereka seperti apa yg mama bilang ke aku, 'jangan takut. ini hanya sementara, cobaan dari Tuhan, Tuhan syg sama kita'.
Tapi aku gak sanggup. Aku gak setegar mama, aku gak punya ketabahan dan kekuatan seperti mama.
Aku sempet gak percaya dgn apa yg dulu kami dengar sebelum ada di bumi. Bumi gak indah! Bumi menyeramkan! Semuanya bikin orang sedih. Kerusakan, ketidak adilan, kekuasaan yang semena mena dari orang-orang yang duduk di atas sana, dan anak-anak yg ditelantarkan!
Tapi ada satu hal yg membuat aku akhirnya benar-benar yakin dan percaya sama dongeng malaikat itu. Satu hal yg membuat aku tetap bertahan. Seorang bidadari paling anggun sejagad, yg memiliki kasih sayang dan kekuatan, ktabahan seluas semesta raya.
Iya! Aku punya mama!! Ada mama!
Aku beruntung mmiliki kehidupan, aku beruntung punya mama. Wanita yg kuat dn tabah.
Bidadari paling anggun sejagad!
Assalamu'alaikum cinta.. (2)
Apa kabarmu disana? Sehatkah? Sakitkah?
Tiba-tiba saja aku ingin berbicara denganmu. Sejenak saja.
Sekadar melepas penat, melepas resah, melupakan risau..
Tapi aku paham, aku tidak mungkin bisa berbicara padamu saat ini. Mungkin nanti, saat kita duduk berdua menyelami waktu menata meja di teras rumah kita, atau saat bersama merawat aster-aster putih di kebun belakang rumah kita.
Kamu harus tahu, seberapa lama aku menunggu..
by the way, ini kita
-by the way, itu kamu-
Boleh aku memanggilmu bidadari?
Ya, bidadari yang dititipkan Tuhan untuk mendampingiku.
Bidadari yang berhiaskan kelembutan, bertahtakan iman. Bidadari yang jiwanya diturunkan dari surga. Yang tiap hembus napasnya adalah tasbih, yang tiap perkataannya adalah kesejukan, yang airmatanya sebening mata air surga.
-by the way, itu kamu-
Aku bukan laki-laki munafik. Aku bukan manusia sempurna, bukan laki-laki yang turun dari surga. Aku hanya laki-laki akhir zaman yang memugar diri dan bersiap mempersunting bidadari sepertimu, hanya bermodalkan iman.
-by the way, ini aku-
Aku ingin kamu menjadi istriku, menjadi yang halal bagitu saat kita dipertemukan nanti. Menjadi yang halal agar aku bisa bersandar di bahumu dan terlelap di pangkuanmu. Agar aku bisa mengusap airmatamu dan mengecup keningmu bilamana engkau menangis.
Aku ingin kamu menjadi istriku, yang akan mendapatkan cintaku utuh tak tersentuh.
Yang tidak akan membuatku cemburu karena engkau pernah mencintai laki-laki lain sebelum aku. Aku inginkan cinta darimu utuh tak tersentuh.
Bidadariku, tunggu aku. Aku akan menjemputmu, membawamu masuk kedalam rumahku, menjadi penghuninya. Utuh tak tersentuh.
Bidadariku, kau satu, hanya satu. Darimu kudapatkan kebahagiaan sejati, dari tawa putra putri kita nanti.
Jika hari itu tiba, saat ijab qobul telah kutunaikan. Akan kurangkul kamu erat, kukatakan pada alam raya bahwa kamu, hanya kamulah yang akan bersanding disisiku meniti jalan ke surga. Biar malaikat menyaksikan betapa beruntungnya aku memilikimu.
Bidadariku, tunggu aku. Kupersiapkan diriku, kupantaskan diri ini untukmu. Aku akan datang menjemputmu.
Wahai engkau, dengan cinta dan iman yang ku ukir di belahan jiwaku.
-by the way, ini kita-
Aku ingin menulis puisi untukmu
Aku ingin menulis puisi untukmu
Dengarkan aku..
Aku ingin menulis puisi untukmu
Dengan bait – bait maya
Dalam syair – syair ilusi
Aku ingin menulis puisi untukmu
Untuk kuisyaratkan sebelum lelapmu
Agar kukenangkan dalam mimpimu.
Tapi aku tak bisa menulis puisi untukmu
Seperti kicau burung bersahutan
Bagai desir ombak yang menderu
Aku hanya bisa menulis puisi untukmu
Melalui hatiku yang telah memilihmu
Melalui rasaku yang inginkan bahagiamu
Dan kuharap kau mengerti
Bahwa aku selalu ingin menulis puisi untukmu
Bahwa aku tak kan berhenti berpuisi untukmu
Jika pagi, siang dan senja datang lagi
Maka itulah waktu dimana semangatku hadir, membuncah lagi, lagi.
Rasanya senyumku tak sanggup sirna ketika namamu datang lagi tiba - tiba.
Seperti itulah rindu yang memberkah semerbak menunggu nyatamu.
Kepada tiap - tiap pagi, kepada siang, kepada senja dan kepada malam.
Kepada satu hati yang datang, kemudian tinggal, lalu menetap dalam damai.
Jika esok pagi datang lagi, ingatlah namaku, dan datanglah beserta namamu.
Datanglah dengan salam yang manis, dan senyuman yang tak pernah terhapus dari benakku.
Jika siang datang lagi, maka rindulah pada kebersamaan yang akan berujung nyata, antara jiwamu dan aku.
Jika senja mulai merama langit, kamu harus tahu, disanalah aku mulai merapal do'a, bukan mantra.
Do'a untuk satu namamu, semoga saja.. aku ikhlas jika aku berakhir di beranda rumahmu.
Dan jika malam mulai turun, maka kenangkanlah.
Kenanglah segala damba yang pernah kau singgahi hingga kau menemukan aku.
Kenanglah bagaimana Tuhan mempertemukan kita, dengan rencanya yang tak pernah terduga. Tidak pernah terelakkan.
Lalu pastikanlah, jejak - jejak langkah yang kita tapaki sendiri - sendiri hari ini, akan bertemu, beriringan di ujung jalan nanti.
Semoga setiaku tidak sia - sia. semoga.. semoga..
kepada yang tercinta disaat Tuhan memanggilmu pulang ke surga.
kepada yang tercinta disaat Tuhan memanggilmu pulang ke surga.
jelas, aku tidak tahu bagaimana memulakannya. aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya.
adakah kamus yang menjelaskan tantang bahasa airmata?
jelas, airmata tidak pernah bisa bersuara.
kepada yang tercinta disaat Tuhan memanggilmu pulang ke surga.
sejenak keberadaanmu di bumi ALLAH telah melahirkan berjuta makna. sejenak kehidupanmu di sini.. berharga bagiku.
kamu, yang sempurna diciptakanNya. yang sempurna dihadiahkanNya untukku.
kepada yang tercinta disaat Tuhan memanggilmu pulang ke surga,
aahh, tiba - tiba sesak rasanya. melihat matamu terpejam, sesaat setelah bibirmu terkatup. berakhir sudah sebuah kehidupan di dunia, dengan kalimah syahadahNya.
kepada yang tercinta disaat Tuhan memanggilmu pulang ke surga,
berlinang airmataku, basah sudah. sungguh, secepat ini Dia memanggilmu kembali? Antara tidak percaya, antara sedih, antara takjub: betapa besar cintaNya kepadamu. ALLAH sangat mencintaimu.
kepada yang tercinta disaat Tuhan memanggilmu pulang ke surga,
masih terngiang tutur santunmu, masih membahana di pendengaranku. juga lakumu yang lembut nan ayu, senyummu yang berpendar dalam temaram, menghangatkan jiwa - jiwa yang kau peluk hatinya dengan segenap cinta yang kau punya.
kepada yang tercinta disaat Tuhan memanggilmu pulang ke surga,
tanpa pernah Dia mempertemukan aku denganmu, tidak lah mungkin hidupku jadi sesempurna ini.
tanpa pernah Dia mempersatukan aku dengamu, tidak lah mungkin hatiku jadi setegar ini.
karena kamu telah membimbing hatiku menjadi teguh.
karena kamu lah yang menjadikan aku jiwa yang kuat. jiwa yang tangguh.
sekali lagi..
kepada yang tercinta disaat Tuhan memanggilmu pulang ke surga,
terimakasih telah menerimaku dalam pertapaan hatimu. terimakasih telah membiarkanku masuk dan menjadi penghuni di singgasana jiwa mu. terimakasih telah mengajarkanku mencinta dengan tulus, tanpa alasan dan tanpa penyesalan.
wahai yang tercinta disaat Tuhan memanggilmu pulang ke surga,
airmataku masih berderai, manusiawi jika aku pilu begini.
hikayatmu telah tercatat dalam kitab hidupku sebagai bidadari tercantik yang paling bisa menguatkanku.
paling bisa meneguhkan aku.
di sini aku akan tersenyum, mengiringi pertemuanmu dengan Illahi Rabbi di arsyNya.
do'aku menyertaimu..
selamat jalan istriku...
kepada yang tercinta disaat Tuhan memanggilmu pulang ke surga. aku cinta kamu...
Jika aku mencintamu
Jika aku mencintamu
Aku masih saja suka memeluk angin
Sepertinya kamu telah menjelma di tiap hembusan angin yang menerpaku
Aku masih saja suka berkelana dalam sepi
Sepertinya kamu telah menjamah ruang sepiku, mendirikan saung kecil di tepiannya
Aku masih saja suka berbagi senyuman dengan kesakitan
Sepertinya kamu telah mengubah kesakitanku menjadi nirwana
Jika aku jatuh cinta
Maka aku mencintamu
Jika aku mencintamu
Maka tiada lain, biar hatiku menjadi jembatan asanya
Menyambut sapaan hangat dari rona kemerahan di pipimu
Selamat tidur, bidadariku.
Gelisah
Gelisah
Gelisah ku tiba – tiba menjamah
Seperti ada yang merenggutmu
Gundahku tiba – tiba memamah
Seperti ada yang merebutmu
Dari singgasana jiwaku
Jarak
Jarak
Semilir ombak di Senggigi
Mengibas hitam rambutnya
Sedang aku berdiri di bibir pantai Kuta
Merajut kembali mimpi yang sempat mati
Terpisah antara Lombok dan Bali
Antara Nusa Tenggara dan Dewata
Langit mulai merekah jingga
Dan kita mulai menyendiri –lagi
Mula
Mula
Mulanya ia satu
Lalu jadi dua dan berpadu
Saling merapatkan rindu
Seperti kemarau yang menantikan hujan
Mulanya ia kelabu
Lalu bertemu dan membiru
Seperti hujan yang mulai turun
Senyumnya perlahan mendamba malu –lagi...
Petang datang
Petang datang
Merama jemarimu dalam remang
Lalu rebah lemah di peraduan petang
Garis khayalmu terbentang
Kau melambai pada petang
Pada camar yang pulang ke sarang
Bersama rindu yang mengangguk senang
Tenanglah. Aku di sini, sayang.
Sebuah mimpi itu..
Sebuah mimpi itu
Sebuah mimpi itu
Hidup sendiri mulai menepi
Kadang datang pilu
Lalu ia mati
Sebuah mimpi itu
Datang lagi dan kini tak sendiri
Bersemi dia bersama canda
Dan berakhir bahagia
Jadi nyata
Sajak Gelap
Sajak Gelap
Kata t’lah terucap
Mengungkap makna dalam tatap
Dan janganlah kau terus meratap
Menangkap cahaya di malammu yang gelap
Dengan impian yang kalap
Kau pejamkan mata dan terlelap
Lalu terjaga disela – sela ucap yang gagap
Dan lihatlah aku yang terus menatap
Menatapmu dari kolong langit tanpa atap
hujan turun lagi
sirnalah senandung malaikat pagi tadi
kaku, sepi
dan aku sendiri lagi
hujan turun, mencurah tumpah
dingin memamah
rindu menjamah -untuk kamu-
sepertinya ada yang pergi, lalu musnah.

